Konsumsi Air Secara Bijak dengan Filter Air Terra

Diperbarui: 11 Jan

Konsumsi air yang bijak merupakan pola pikir holistik terkait penggunaan air secara optimum dan seimbang, baik untuk diri sendiri, generasi mendatang, dan lingkungan. Beberapa penerapan perilaku bijak dalam mengkonsumsi air sehari-hari dapat memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat dan lingkungan.

Indonesia merupakan salah satu Negara dengan kelangkaan air (water-stressed country) dengan peringkat ke-65 se dunia. Kondisi ini terjadi ketika permintaan air melebihi jumlah air yang tersedia selama periode tertentu atau buruknya kualitas air yang membatasi penggunaan air bagi masyarakat. Sejauh ini pemerintah Indonesia sudah mengupayakan pemenuhan air melalui PT. PDAM, namun jangkauan pelayanan yang ditawarkan masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh pelosok Indonesia. Hal ini menyebabkan maraknya pemanfaatan air tanah melalui pemanfaatan sumur bor oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air domestik. Namun perlu diketahui bahwa eksploitasi air tanah dapat mengganggu keseimbangan ketersediaan cadangan air tanah, intrusi air laut, hingga penurunan kualitas air tanah yang terpapar partikel berbahaya seperti bakteri E-coli.

Setiap orang membutuhkan setidaknya minimum 15 liter/hari baik untuk keperluan makan/minum, mencuci, mandi, dan keperluan dasar lainnya. Sehingga dengan kurangnya pasokan air, secara tidak langsung sangat berdampak kepada aktivitas sehari-hari masyarakat. Jika eksploitasi air tanah dapat memberikan dampak negatif dalam jangka panjang, lalu apa yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengonsumsi air secara bijak?


World Resource Institute menyarankan bahwa kita harus mulai merubah pola pikir terhadap sumber air. Air tanah bukanlah satu-satunya sumber air yang dapat dimanfaatkan. Dari sudut pandang perilaku konsumsi, sumber air dapat ditemukan dari proses daur ulang air. Kita dapat menggunakan kembali beberapa limbah air yang masih layak pakai untuk sumber daya air baru yang dapat memenuhi kebutuhan, contohnya penggunaan air bekas mencuci beras untuk menyiram tanaman.


Manfaat Air Cucian Beras


Nasi menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia, sehingga proses pencucian beras tidak terlepas dari rutinitas sehari-hari masyarakat. Namun alih alih membuang air limbah cucian beras, kita dapat menggunakannya untuk menyiram tanaman. Air limbah cucian beras secara umum tidak merugikan, bahkan mengandung beberapa senyawa seperti karbohidrat, protein, vitamin dan mineral yang dapat menutrisi tumbuhan, perangsang pertumbuhan, dan menguatkan akar tumbuhan. Dengan menggunakan air beras untuk kegiatan berkebun, maka kita dapat menghemat pengeluaran air bersih yang dapat digunakan untuk aktivitas penting lainnya. Selain memanfaatkan limbah air, dari segi geografis, Indonesia merupakan negara tropis dengan curah hujan yang tinggi, sehingga air hujan juga dapat menjadi alternatif sumber air.


Beras Organic Bali


Manfaat Air Hujan


Air hujan adalah sumber air yang dan berasal dari proses kondensasi uap air laut yang jatuh ke permukaan bumi dalam bentuk hujan. Pemanfaatan air hujan dapat digunakan untuk keperluan domestic, pertanian hingga kebutuhan industry. Tenang saja, proses penampungan air hujan tidak membutuhkan instalasi khusus, kita dapat membuat DIY tampungan air hujan yang sederhana. Air hujan akan ditampung dalam bentuk sumur resapan dan dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan. Disamping itu, sumur resapan ini dapat membantu mengurangi genangan air hujan dan ancaman banjir. Air hujan adalah sumber air yang relatif bersih sehingga sangat dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan mandi, mencuci, bahkan dengan proses penyaringan yang tepat, air hujan dapat dikonsumsi.


Penampungan Air Hujan

Penggunaan air hujan untuk konsumsi secara tidak langsung dapat membantu menurunkan biaya yang ditanggung dalam penggunaan air oleh air kemasan. Selain lebih mahal, penggunaan air dalam kemasan juga merupakan salah satu bentuk penggunaan air yang kurang bijak. Mengapa? Di satu sisi penggunaan kemasan plastic dalam air minum kemasan dapat berpotensi mencemari lingkungan.

water food print

Disisi lain, jejak air (water footprint) dalam pembuatan plastic juga merupakan suatu isu yang perlu diperhatikan. Jejak air atau water footprint merupakan jumlah air yang digunakan untuk memproduksi barang/jasa yang kita gunakan. Dalam hal ini pembuatan botol plastic membutuhkan setidaknya tiga kali lebih banyak air dibandingkan jumlah air yang dapat ditampung dalam botol tersebut. Sehingga secara ilustrasi, dibutuhkan 3 liter air untuk membuat satu botol plastik air mineral ukuran 1 liter. Fenomena ini sangat disayangkan dengan adanya eksploitasi sumber air untuk mendapatkan air kemasan yang justru memberikan dampak negatif bagi lingkungan.


Sebagaimana yang kita ketahui, air merupakan sumber daya milik bersama yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat tanpa terkecuali. Namun, realitanya masih banyak masyarakat yang mengalami kesusahan untuk mendapatkan akses air bersih baik untuk konsumsi atau pemenuhan kebutuhan harian lainnya. Seiring waktu, semakin banyak teknologi dan fasilitas pengelolaan air seperti filter air/saringan air) untuk memanfaatkan berbagai sumber air menjadi air yang layak pakai. Filter air menjadi salah satu solusi pemenuhan kebutuhan air bersih. Kita tidak perlu khawatir dengan penggunaan berbagai sumber air seperti air sungai, keran, air sumur, danau, dan air hujan menjadi air layak pakai. Tindakan bijak kita dalam mengkonsumsi air, dan investasi untuk pengelolaan air yang lebih baik dapat membantu masyarakat Indonesia dalam memecahkan isu air demi kebaikan manusia, ekonomi dan lingkungan kita.

156 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua